Pada mentari yang menyambut pagi, pada kicauan burung yang setia menyapa, mengapa rindu masih tertahan pada rasa yang sama.
Kau buang kemana kunci rumahku, hingga tak ada yang dapat masuk; selain kamu.
Untuk pagi ini, rindu dan temu masih belum ingin bersekutu. Maka sekali lagi, hati dipaksa untuk berbesas sabar, lagi.
Airmata kembali menyapaku, ketika pena mulai menuliskan sajak tentang rindu.
Rindu adalah pelanggan setia, Saat sepi menjadi bintang utamanya.
Senyummu begitu mempesona; Dari dasar jurang luka, kau bangunkan rasa yang disebut cinta.
Jika rasa ini sesat, biarkan kumengembarakan nikmat, walaupun hanya sesaat.
Kupeluk sunyi sebatas janji, segaris larik pada puisi; di sudut mata aku buta, untuk cinta yang baru kuterka.
Bantu aku untuk membenci waktu, karena disaat bersamaan – Aku terlalu merindukanmu.
Di suatu zaman, kebahagiaan adalah saat di mana perang hilang, dan kasih sayang kembali terbilang.
Di matamu tiada lagi air mata setelah kutanam cinta. Dan aku tumbuh di dalamnya tanpa luka.
Sejak cinta tiada dari kita, aku dan kau kerap bertukar luka dengan airmata.
Gadis itu sangat lucu -- Entah kenapa; Aku ingin memburu, senyumnya yang buatku merindu.
Dihatimu aku ingin bermetamorfosa; menjadi seekor kupu-kupu yang melingkari kebahagiaanmu.
Ada senyum yang buatku lupa, saat dimana luka berada dan rindu tak lagi menyapa.
Bersama embun; kutitipkan rindu, biarkan ia membawa pilu sepeninggalnya waktu.
Aku akan tiba -- di sebuah puisi; dimana hanya ada tangisanmu yang melingkari angka-angka arloji. ~
Aku ingin mengunjungi pasar malam di kepalamu dan membeli baju baru untuk puisiku.
Kelak, jika waktuku tiba. Aku hanya ingin satu, mati dipelukanmu.
Entah, aku melihat di matamu ada kesunyian, seperti air yang diam, saat kita bertemu malam.
Senyum kecil akan senang merayap di wajahku, bila kamu menuliskan puisimu, tepat di ulu hatiku.
Ada melodi lain yang lebih dari merdu; sapaanmu.
Kita adalah lagu-lagu yang seirama, yang dinyanyikan pada kesempatan berbeda.
Kasih sayang kuasuh agar dukamu kemudian dibasuh. Dan cinta kuasah agar terpangkas sedihmu yang basah.
Aku tidak sedang memiliki cinta dengan pasangan, namun setiap sujud dan rafal doa telah ku sebut cinta; pada Tuhan.
Separuh nafas bernuansa hati hinggap dimalam sunyi aku terbangun dari bayang tentangmu yang baru bertamu dikepala ku.
Biarlah airmata ini menuliskan namamu, ketika rindu menyapaku.
Tak ada puisi yang tak merintih perih,sebab, kepergianmu cukup belati pada tubuh puisi.
Ada yang menggigil ketika pagi berembun; sebatang krisan yang tumbuh sendirian dan kenangan yang kau abaikan.
Merelakan, seringkali menyakitkan. Tapi akan membahagiakan -- pada akhirnya.
Diantara duka yang ada, kehilanganmu adalah duka yang paling menyesakkan dada.
Bibir mungilku masih merapal doa yang sama; tentang 'kita' dengan bulir air mata.
Kelak kita juga kan bersama seperti anganku anganmu di setiap detak detik merambati hari mengaliri heningnya sunyi.
Di kota kenangan; lambaian tanganmu telah diberkati suara kokok ayam jantan, membangunkan tentangmu yang tidur di ingatan.
Di perempatan itu, akulah nyala lampu merah; berkedip genit, bermonolog tentang kedatangan dan kepergian.
Di kota ini: kita dikisahkan sebagai sepasang merpati jatuh cinta, yang akhirnya memilih pergi daripada saling melukai.
Pada tubuh yang rindu, sesak telah tumbuh menjadi belukar, hanya pelukanmulah segala sakitnya merindu bisa ditawar.
Kelak ketika kau rindu pagi yang indah, sujudlah pada selembar sajadah, di sana; segala yang indah telah melimpah.
Kau bacakan duka dengan kedua matamu, kudengar gemericik kesedihan mengaliri mataku; seperti tanda baca koma--tak ada hentinya.
Di tangan Tuhan, cinta telah lebih dulu jatuh, pada imanmu yg tak runtuh.
Jika cinta, katakan -- atau ia menjadi kutukan.
Mendoakan kekasihmu dari jauh tak membuat rindumu sembuh. Itu hanya cara rindu menghibur cinta agar luka tak makin menganga
Aku ingin menjadi prasa. Dari cinta yang kau jatuhkan dengan air mata.
Dirimu, sayang, nada sumbang pada gitarku; yang kupetik seumur rindu.
Tubuhmu, cahaya terang. Aku, lautan tenang, seketika bergelombang.